menu melayang

Rabu, 03 Desember 2025

Pembesaran Ikan Lele Setelah Pembibitan yang Wajib Diketahui

 


Pembesaran ikan lele merupakan tahap penting setelah proses pembibitan selesai dan benih mencapai ukuran siap tebar. Dalam tahap ini, peternak harus memberikan perhatian penuh pada kondisi kolam, pemberian pakan, hingga kualitas air. Jika tahap pembesaran dikelola dengan benar, tingkat pertumbuhan ikan dapat maksimal dan angka kematian bisa ditekan secara signifikan.


1. Persiapan Kolam Pembesaran

Persiapan kolam merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan pembesaran ikan lele. Kolam harus dibersihkan dari kotoran atau sisa pakan dan kemudian dikeringkan beberapa hari untuk mematikan bakteri berbahaya. Setelah itu, kolam diisi air bersih secara bertahap dan diberi kapur dolomit untuk menstabilkan pH serta probiotik atau daun ketapang guna menciptakan lingkungan yang nyaman bagi ikan.

Kolam pembesaran bisa dibuat dari terpal, beton, tanah, atau sistem bioflok, tergantung skala dan modal peternak. Kolam terpal dan beton lebih mudah dikontrol kualitas airnya, sedangkan kolam tanah lebih alami dan cocok untuk jumlah besar. Sistem bioflok menjadi pilihan modern karena dapat meminimalkan penggunaan air dan mempercepat pertumbuhan ikan.

Kepadatan ikan harus diperhatikan sejak awal agar ikan tidak stres dan tetap tumbuh optimal. Kepadatan yang terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan karena ikan harus berebut oksigen, ruang, dan pakan. Oleh karena itu, sebaiknya kepadatan ditebar sesuai standar agar hasil panen bisa maksimal.


2. Pemilihan dan Penebaran Benih

Pemilihan benih yang berkualitas merupakan kunci untuk mendapatkan ikan lele yang tumbuh cepat dan seragam. Benih yang baik memiliki ukuran yang sama, gerakan aktif, dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Selain itu, warna tubuhnya cerah, tidak ada cacat fisik, dan perutnya tidak tampak membengkak secara tidak normal.

Sebelum ditebar, benih harus diaklimatisasi terlebih dahulu untuk menyesuaikan suhu antara wadah dan kolam. Proses aklimatisasi ini penting agar benih tidak mengalami stres yang dapat menyebabkan kematian. Menebar benih pada pagi atau sore hari juga lebih baik karena suhu air lebih stabil dan sinar matahari tidak terlalu terik.

Cara penebaran benih juga harus dilakukan secara perlahan agar ikan tidak kaget. Gunakan wadah atau bukaan kecil sehingga benih keluar secara alami ke dalam kolam. Semakin halus proses penebaran, semakin kecil risiko stres pada benih sehingga tingkat survival rate akan lebih tinggi.


3. Manajemen Pakan Pembesaran Lele

Pemberian pakan adalah kegiatan vital dalam pembesaran karena menentukan kecepatan pertumbuhan serta biaya produksi total. Pakan utama yang digunakan adalah pelet dengan kandungan protein yang disesuaikan dengan umur ikan. Pada masa awal, kandungan protein tinggi diperlukan untuk mempercepat pembentukan jaringan tubuh, sedangkan menjelang panen cukup menggunakan pakan dengan protein sedang.

Selain pelet, peternak dapat memberikan pakan tambahan seperti maggot BSF, cacing, keong, atau ampas tahu fermentasi. Pakan tambahan ini dapat meningkatkan efisiensi karena harganya lebih murah namun tetap memiliki nutrisi yang tinggi. Kombinasi pakan pelet dan tambahan akan membantu mempercepat pertumbuhan lele sekaligus menekan biaya operasional.

Cara pemberian pakan juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah pada kualitas air. Berikan pakan sedikit demi sedikit dan hentikan jika ikan mulai lambat merespons, karena itu tanda mereka sudah kenyang. Pakan yang berlebihan akan mengendap menjadi amonia dan memicu penyakit berbahaya bagi ikan.


4. Perawatan dan Pengelolaan Air

Kualitas air merupakan faktor terbesar yang menentukan kesehatan ikan lele selama masa pembesaran. Air yang baik harus memiliki pH, suhu, dan kadar amonia yang stabil agar ikan dapat tumbuh tanpa gangguan. Jika parameter air berubah drastis, ikan mudah stres dan lebih rentan terkena penyakit.

Tanda-tanda menurunnya kualitas air bisa dilihat dari warna air yang terlalu gelap, bau menyengat, atau ikan yang sering naik ke permukaan. Jika kondisi ini terjadi, artinya air sudah mengandung banyak amonia atau kekurangan oksigen. Pada kondisi tertentu, ikan dapat mengalami kematian mendadak apabila kualitas air tidak segera diperbaiki.

Pergantian air perlu dilakukan secara berkala sesuai jenis kolam. Pada kolam terpal, penggantian air sebagian setiap 5–7 hari dapat menjaga kondisi tetap stabil. Sementara itu, pada sistem bioflok, biasanya cukup menambah air saja karena bakteri baik akan mengolah limbah menjadi nutrisi bagi ikan.


5. Pencegahan dan Penanganan Penyakit

Penyakit merupakan ancaman serius dalam pembesaran ikan lele dan dapat menyebabkan kerugian besar jika tidak ditangani dengan cepat. Beberapa penyakit yang sering muncul antara lain infeksi jamur, bakteri, dan parasit yang menyerang kulit atau insang ikan. Penyakit ini umumnya muncul akibat kualitas air buruk atau kondisi ikan yang stres.

Pencegahan penyakit jauh lebih efektif dibandingkan mengobati, sehingga manajemen kolam harus dilakukan secara konsisten. Menjaga air tetap bersih, memberikan pakan berkualitas, dan menghindari kepadatan berlebih adalah langkah pencegahan dasar yang wajib diterapkan. Selain itu, pemberian probiotik secara rutin dapat membantu menjaga kesehatan ikan dari dalam.

Jika ikan menunjukkan gejala sakit seperti luka merah, sirip busuk, atau berenang tidak normal, segera lakukan isolasi dan pengobatan. Pengobatan dapat menggunakan garam ikan, methylene blue, atau obat lain yang sesuai dengan jenis penyakitnya. Semakin cepat tindakan dilakukan, semakin besar peluang ikan pulih dan penyebaran penyakit bisa dicegah.


6. Masa Pemeliharaan dan Pertumbuhan

Masa pemeliharaan ikan lele berlangsung sekitar 2,5 hingga 3,5 bulan, tergantung ukuran panen yang diinginkan. Selama masa ini, lele akan mengalami pertumbuhan yang cukup cepat jika diberi pakan teratur dan kualitas air terjaga. Peternak perlu melakukan pengecekan berkala untuk memastikan ikan tumbuh seragam dan tidak terjadi kanibalisme.

Pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas bibit, nutrisi pakan, dan kondisi lingkungan. Jika salah satu faktor terganggu, pertumbuhan ikan bisa melambat dan waktu panen menjadi lebih lama. Oleh karena itu, peternak harus menjaga semua faktor pendukung secara konsisten agar hasil panen optimal.

Selain itu, pemantauan harian perlu dilakukan untuk melihat apakah ada tanda-tanda perubahan perilaku ikan. Perubahan perilaku biasanya merupakan sinyal awal bahwa ada masalah pada kolam. Dengan deteksi dini, penanganan bisa dilakukan sebelum masalah menjadi besar.


7. Panen dan Penanganan Pasca Panen

Proses panen harus dilakukan dengan hati-hati agar ikan tidak stres atau terluka karena dapat mempengaruhi kualitas jual. Sebelum panen dilakukan, ikan sebaiknya dipuasakan selama beberapa jam untuk membersihkan kotoran dalam perut. Setelah itu, air kolam dikurangi perlahan untuk memudahkan pengambilan ikan menggunakan jaring.

Setelah dipanen, ikan perlu ditempatkan di wadah bersih yang berisi air segar agar tetap hidup dan segar. Penanganan yang baik sangat penting terutama jika ikan akan dijual langsung ke pengepul atau konsumen. Mutu ikan yang baik dapat meningkatkan harga jual sehingga memberikan keuntungan lebih besar bagi peternak.

Jika memungkinkan, ikan juga bisa dipilah berdasarkan ukuran agar pengemasan dan pengiriman lebih rapi. Pemilahan ukuran membantu menjaga kualitas dan memudahkan proses distribusi. Dengan penanganan pasca panen yang benar, ikan akan sampai ke pembeli dalam kondisi optimal.


Kesimpulan

Pembesaran ikan lele merupakan proses yang memerlukan ketelitian dari awal hingga akhir. Mulai dari menyiapkan kolam, memilih benih, mengatur pakan, hingga menjaga kualitas air, semuanya harus dilakukan secara benar dan konsisten. Jika semua tahapan dilakukan dengan baik, peternak bisa mendapatkan hasil panen yang maksimal dengan tingkat kerugian yang minimal.


Blog Post

Related Post

Back to Top

Pencarian Artikel

CARI ARTIKEL

Artikel Terbaru

Label

Arsip Blog

ARSIP ARTIKEL