1. Memilih Induk Lele Berkualitas
Pemilihan induk adalah faktor yang menentukan jumlah telur, kualitas sperma, hingga tingkat keberhasilan pembuahan. Induk yang tidak sehat sering menghasilkan telur yang gagal menetas atau larva yang lemah. Oleh karena itu, pengamatan fisik dan perilaku induk sangat penting sebelum proses pemijahan.
Ciri-ciri induk betina siap pijah
Perut induk betina yang besar dan terasa lembek menandakan bahwa ovarium sudah penuh dengan telur matang. Warna kemerahan pada area genital menunjukkan aliran darah meningkat, sebagai tanda kematangan gonad. Saat ditekan perlahan dan keluar butiran telur, itu adalah indikasi kuat bahwa induk benar-benar siap dipijahkan.
Ciri-ciri induk jantan siap pijah
Induk jantan biasanya memiliki tubuh yang lebih ramping karena tidak membawa telur. Lubang kelamin yang memanjang dan mengeluarkan sperma putih saat ditekan menandakan kualitas sperma yang baik. Gerakan yang aktif menunjukkan kondisi tubuh yang sehat dan vitalitas tinggi selama proses pemijahan.
2. Persiapan Kolam dan Kakaban
Kolam pemijahan harus disiapkan dengan kondisi yang stabil dan bebas dari stresor seperti suara keras atau hewan pengganggu. Pemilihan bahan kolam seperti terpal, fiber, atau beton harus disesuaikan dengan skala usaha dan ketersediaan. Kebersihan kolam sangat penting karena telur lele sensitif terhadap jamur dan kontaminasi.
Ukuran kolam ideal 2 × 3 meter memberi ruang bagi induk untuk bergerak dan melakukan proses pemijahan secara alami. Kedalaman air 40–60 cm menjaga suhu tetap stabil dan memudahkan pengamatan telur. Kakaban digunakan sebagai tempat menempelnya telur sehingga mudah diangkat untuk penetasan dan mencegah induk memakan telur.
Posisi kakaban sebaiknya menempel ke dinding kolam atau digantung agar tidak tenggelam seluruhnya. Penempatan yang benar membantu telur mendapatkan sirkulasi air yang baik. Selain itu, kakaban harus dibersihkan sebelum digunakan untuk mencegah jamur dan bakteri.
3. Metode Pemijahan (Pilihan Teknik)
Ada beberapa teknik pemijahan yang dapat dipilih tergantung target produksi dan ketersediaan tenaga atau alat. Metode alami cocok bagi pemula, sedangkan metode buatan digunakan pada produksi besar. Pemilihan metode yang tepat akan meningkatkan efisiensi dan konsistensi produksi benih.
A. Pemijahan Alami
Pada metode ini, induk dibiarkan memijah sendiri tanpa bantuan hormon atau campur tangan langsung. Kondisi kolam harus tenang dan minim gangguan agar induk tidak stres. Meskipun hasil telur lebih sedikit, cara ini sangat cocok untuk skala kecil dan biaya operasional rendah.
B. Pemijahan Semi Buatan (bantuan hormon)
Induk betina diberi suntikan hormon seperti ovaprim untuk merangsang ovulasi. Setelah 8–12 jam, induk siap dilepas bersama jantan untuk proses pemijahan. Teknik ini menghasilkan jumlah telur yang lebih banyak dan konsisten dibanding metode alami.
C. Pemijahan Buatan / Stripping
Pada metode stripping, telur dan sperma dikeluarkan secara manual menggunakan pijatan lembut. Teknik ini memerlukan keahlian untuk mencegah kerusakan pada induk dan telur. Kelebihannya, jumlah telur yang dihasilkan sangat banyak dan tingkat pembuahan lebih terkontrol.
4. Penetasan Telur
Setelah pemijahan selesai, telur harus segera ditangani agar tidak rusak atau dimakan induk. Suhu penetasan 26–30°C membuat perkembangan embrio berlangsung optimal. Aerasi lembut diperlukan untuk menjaga telur tetap mendapatkan oksigen tanpa membuatnya tersapu arus kuat.
Induk sebaiknya langsung diangkat setelah pemijahan karena insting naturalnya bisa memakan telur. Telur yang sehat biasanya berwarna kekuningan atau transparan, menandakan embrio berkembang baik. Proses penetasan umumnya berlangsung 24–36 jam tergantung suhu dan kualitas air.
5. Perawatan Larva (Hari ke-1 hingga Grading)
Setelah menetas, larva masih membawa cadangan kuning telur sebagai sumber energi. Pada 2–3 hari pertama, larva tidak perlu diberi pakan karena masih hidup dari cadangan tersebut. Mulai hari ke-3, larva membutuhkan pakan halus agar pertumbuhannya merata.
Pakan awal yang disarankan
Cacing sutra adalah pakan terbaik karena mudah dicerna dan sangat kaya protein. Artemia bisa menjadi pilihan jika tersedia, meski harganya lebih tinggi. Kuning telur rebus bisa digunakan sebagai alternatif darurat, tetapi harus diberikan sedikit agar air tidak cepat keruh.
Perawatan harian
Pergantian air 10–20% per hari membantu menjaga kualitas air tetap stabil tanpa membuat larva stres. Aerasi lembut penting untuk menjaga kadar oksigen terutama saat populasi larva padat. Hindari pakan berlebih karena sisa makanan dapat membusuk dan meningkatkan amonia yang mematikan larva.
6. Masalah Umum dan Solusinya
Masalah pada tahap pemijahan dan penetasan dapat muncul meskipun prosedur sudah tepat. Pengamatan harian sangat penting untuk mencegah kerugian besar. Berikut ringkasan masalah yang sering terjadi dan cara menanganinya:
| Masalah | Penyebab | Solusi |
|---|---|---|
| Telur tidak menetas | Induk belum matang / kualitas telur buruk | Pilih induk baru, pastikan ciri-ciri matang gonad dan bebas penyakit |
| Telur berjamur | Air tercemar / aerasi buruk | Tambah aerasi lembut, gunakan methylene blue atau daun ketapang |
| Larva mati massal | Suhu tidak stabil atau nitrit tinggi | Stabilkan suhu 26–30°C, jaga kualitas air dan lakukan pergantian rutin |
| Induk memakan telur | Induk dibiarkan terlalu lama | Angkat induk segera setelah pemijahan selesai |
7. Ringkasan & Rekomendasi
Pemijahan lele yang baik akan menghasilkan benih sehat, kuat, dan seragam. Kunci suksesnya adalah memilih induk yang benar-benar matang dan mempersiapkan kolam dengan baik. Selain itu, metode pemijahan harus dipilih sesuai kemampuan dan target produksi.
Kondisi air harus selalu stabil, terutama selama penetasan karena telur sangat sensitif. Pemberian pakan larva dimulai setelah cadangan kuning telur habis, sekitar hari ke-3. Dengan pencatatan induk dan manajemen rotasi, usaha pembenihan dapat berjalan dengan produktif dan berkelanjutan.
